Sabtu, 29 Juni 2013

Eksplorasi Gaya Pria Urban

Persepsi sosial masyarakat kota yang terus berubah memberikan ruang longgar bagi kaum pria untuk lebih mengaktualisasikan diri melalui mode busana. Pria urban kini lebih berani bergaya, tanpa harus mempertaruhkan maskulinitas. 
Merancang busana pria adalah tantangan tersendiri bagi kalangan desainer. Pakaian pria yang pada dasarnya hanya ”itu-itu” saja, di tangan beberapa perancang di bawah ini menjadi istimewa.
Salah satu kuncinya, para perancang ini cukup jeli mencermati perilaku pria urban masa kini. Arus kultur perkotaan yang memberikan ruang publik luas untuk mengaktualisasikan hasrat ”dilihat dan melihat” membuat pria urban pun kini sulit mengelak untuk tidak bergaya melalui mode.
”Di luar acara yang sangat formal, pria sekarang memang jauh lebih berani improvisasi dengan model pakaian. Buat gaul, kalau cuma pakai jins dan T-shirt, kurang bikin noleh,” ujar perancang mode senior Samuel Wattimena.
Pada Indonesia Fashion Week 2013, Februari lalu, Samuel Wattimena menyuguhkan koleksi pakaian pria siap pakai rancangannya. Ia menampilkan pilihan busana untuk kesempatan semiformal hingga kasual. Kali ini, Samuel banyak berkreasi dengan bahan crepe, dengan sentuhan citarasa kain Indonesia pada detail aplikasi.
Kemeja lengan panjang berpotongan formal rancangan Samuel, misalnya, tampak lebih kasual karena detail aplikasi dan pilihan paduan warnanya. Pada kemeja berbahan crepe itu, Samuel menggunakan detail kombinasi endek—tenun ikat dari Bali—dan bahan bertekstur dengan gradasi warna lebih muda. Kemeja hijau ini dipadupadankan dengan celana kain coklat.
”Kalau kita pakai setelan dengan satu warna atau monokromatik kesannya akan lebih formal. Karena itu, saya pakai padu padan warna,” ujarnya.
Pada sebuah rompi, Samuel menggunakan aplikasi berupa patchwork dari aneka batik yang kaya warna. Patchwork batik juga digunakannya untuk syal sebagai dalaman jas semiformal. Sementara kain tenun Nusa Tenggara Timur disulap Samuel jadi celana kasual sebatas lutut berpadu dengan kemeja longgar.
Selain sentuhan tradisional ala Samuel, pilihan busana pria kasual siap pakai yang sedikit eksperimental hadir dalam rancangan Deden Siswanto untuk label Pinot Noir. Sebanyak 20 set busana yang ditampilkan dalam ajang IFW 2013, membawa inspirasi dari film Hollywood A Walk in The Clouds (1995), yang dibintangi Keanu Reeves. Sebuah film yang berlatar perkebunan anggur Napa Valley milik keluarga Meksiko-Amerika.
”Dari inspirasi film itu, saya memadukan unsur vintage dari suasana pedesaan dengan unsur modern,” kata Deden.
Koleksi rancangan Deden tersebut hadir berupa celana panjang, celana pendek dan bermuda, kemeja berlengan panjang, rompi, juga jaket. Celana dipresentasikan dengan gaya gulung di bagian bawah.
Deden menggunakan warna-warna bumi, seperti hijau lumut, khaki, coklat, merah marun, dan abu-abu. Sebagian besar rancangan Deden tersebut menggunakan material bahan yang nyaman seperti katun, linen, dan danvoil.
”Tantangan merancang busana pria adalah pria itu lebih rewel. Mereka ingin kenyamanan, tetapi bisa gaya, namun juga enggak mau terlalu jadi pusat perhatian,” kata Deden.
Yang juga menarik, koleksi Pinot Noir rancangan Deden memberikan ruang pula pada gaya androgini bagi kaum perempuan. Oleh sebab itu, dalam pergelaran busana di ajang IFW lalu, muncul model perempuan yang juga mengenakan busana rancangannya.
Segar
Koleksi dengan aura kesegaran yang cukup kuat tampil dari pergelaran perdana label busana pria siap pakai 3D rancangan Tri Handoko yang bermitra dengan Dave Hendrik. Kesan segar, sederhana, dan elegan berpadu proporsional dalam 20 set busana bertema 24/7 yang ditampilkan.
Koleksi siap pakai ini berupa kemeja, celana panjang penuh dan tiga per empat, bermuda, celana pendek, kemeja lengan panjang dan pendek. Faktor kenyamanan yang juga diutamakan membuat Tri dan Dave memilih bahan seperti katun dan linen. Koleksi yang hadir tampaknya mengusung pakem faktor keterpakaian berkali-kali untuk rentang waktu panjang.
Dominasi warna biru dalam beberapa gradasi memberikan kesan intelek tersendiri yang berpadu dengan warna-warna lain, seperti putih, merah, khaki, juga abu-abu. Permainan color blocking serta perpaduan motif garis dan kotak tampil tanpa melewati batas psikologis kepantasan.
”Baju laki-laki sebenarnya kan hanya itu-itu saja, tetapi kita coba tawarkan beberapa detail yang unik seperti kemeja dengan lipatan bukaan di punggung, yang ternyata di luar dugaan disukai,” tutur Dave.
Dave mengamati, saat ini pria urban kian sadar penampilan seiring menjamurnya berbagai tempat dan acara hiburan di berbagai sudut kota. ”Laki-laki kian sadar penampilan dan seperti juga perempuan, enggak mau bajunya disamain. Oleh karena itu, mereka mau sediakan waktu untuk cari koleksi yang unik dan jumlahnya terbatas,” tutur Dave.

Tidak ada komentar:

fashionpria

freemanfashion